Tentang Balaraja 1

Kata Balaraja di ambil dari dua kata BALAI dan RAJA. Menurut sejarah yang penulis teliti dari berbagai sumber. Kata tersebut bukan sembarang kata. Kata tersebut mengandung makna yang berarti buat khasanah sejarah di kabupaten tangerang. Balaraja yang notabene selalu berkenaan dengan pabriknya dan kota tekstilnya sebenarnya ada rahasia sejarah yang penting dan mistik. Tahukan anda, bahwa kata balaraja sebenarnya adalah persingagahan pararaja. Konon pada abad ke 16 pernah berkumpulnya para raja senusantara dalam upaya penelusuran kerajaan-kerajaan dan balaraja adalahtempat perkumpulantersebut. Raja-raja yang pada saat itu berkumpul adalah Raja Homengkubuono ke X, Raja Sultan Hamid(jawa timur), Raja Sultan Ageng Tirtayasa (banten), Raja Anoman (jawa tengah), Raja Panembahan Senopati (purwakarta), Raja Prabusiliwangi (jawabarat), Raja Ternate-Tidore (halmahera), Raja Hasanudin (makasar) dan raja lainya.

Perkumpulan di BALAI yang berlokasi di sentiong yang kini di sebut balaraja adalah tempat untukberdiskusi para raja. Hingga akhirnya tempat yang sekarang di sebut balaraja sebenarnya untuk mengenang kembali tentang perkumpulan para raja tersebut. Dan dalam perkembanganya, wilayah yang sekarang kini adalah wilayah balaraja mengandung hal-halyang mistik. Pada zaman dahulu kala, di balaraja di kuasaioleh para pedagangarab, cina dan bangsa eropa. Hingga akhirnya terjadi persaingan antar pedagang yang notabene di kuasai penuh oleh bangsa cina.

Sejalan dengan itu, kekuasaan yang didominasi oleh bangsa cina ini menjadi para pedagang arab merasa khawatir. Hingga akhirnya timbulah persainganyang tidak sehat. Puncaknya terjadi pembatanain oleh bangsa arab terhadap orang-orang tionghoa di zaman itu. Mendengar akan ketidakharmonisan di tempat berkumpulnya para raja. Menjadikan para raja menyelesaikan masalah yang tidak mennemukan titik temu. Antara pedagang arab dan cinapun saling bekerjasa sama dalam hal perdagangan kembali.

Di satu sisi, persaingan antar pedagang arab-cinayang menjadikan sumber awal mula terdinya sejarah balaraja yang memang sulit dicerna oleh otak. Sejarah memang timbul dari berbagai persepsi. Di sini sejarah balaraja sebagai tempat persinggahan para raja menjadi kisah yang perlu untuk diceritakan.

Bagi masyarakat sekitar tempat tersebut (balaraja) dianggap sebagai sebuah tempat yang dikhusus bagi Keluarga Kerajaan. Saat Raja dari Kesultanan Banten mengadakan perjalanan dari Banten ke Cirebon ataupun dari Banten ke Batavia. Sebuah tempat disekitaran kampung Telagasari, sering dijadikan untuk tempat beristirahat sekedar melepas lelah. Suasana kampung yang asri dengan aliran Sungai Cimanceuri berada di pinggir kampung.

Penduduk hidup dengan sejahtera dengan mengandalkan hasil dari pertanian mereka. hidupsebagai daerah yang sering dilalui orang orang dari berbagai daerah menjadikan daerah ini menjadi ramai. ketika raja hendak mengadakan perjalanan menuju kesultanan di banten ia beristirahat dan meminta pengawal untuk membuat bale di pinggir sungai cimanc. ketika raja sedang beristirahat ada seorang gadis yang anggun dan ayu seketika raja pun terpikat.

Sang raja pun mengutus pengawalnya untuk mencari tahu tentang gadis itu, setelah mencari tahu tentang gadis itu pangawal melaporkan bahwasanya gadis itu sudah memiliki kekasih dan akan segera dinikahkan oleh orang tuanya. mendengar laporan tersebut naluri kelelakian sang raja untuk mendapatkan gadis tersebut dengan memilih singgah di bale tersebut untuk melakukan persaingan secara sehat guna mendapatkan hati sang gadis.

Demi mendapatkan gadis yang diidamkan. Kerajaan sesaat ditinggalkan, strategi perang digunakan untuk menaklukan gadis pujaan. Benar saja penggunaan strategi yang pas, dengan taktik yang cerdas menghasilkan sebuah tujuan yang diinginkan. Pemuda desa yang menjadi kekasih sang gadis ternyata tidak cukup mampu untuk bisa bersaing mendapatkan pujaan hatinya melawan Sang Raja. Seperti dalam kisah lainnya Sang Raja menjadi pemenang. Kemudian sebagai bukti kemenangannya, tidak lama berselang Sang Raja menikahi gadis tersebut dan menjadikannya selir. Hasil pernikahannya dengan selir, Sang Raja mendapatkan satu anak laki-laki. Setelah semuanya sudah menjadi pasti dan gadis tersebut sudah dijadikan Selir. Cerita tentang cikal bakal salah satu penamaan Balaraja berakhir.

Sang Raja mengembalikan bale sesuai fungsinya kembali, sebagai sebuah tempat untuk istirahat sekedar singgah atau melepaskan lelah setelah lama berjalan. Hingga saat bale tersebut hancur karena termakan oleh waktu, hanya sebuah cerita yang ditinggalkan.Kisah-kisah selanjutnya yakni menyangkut anak dari Selir Raja, sudah tidak lagi ada yang menceritakan. Hanya bekas makam yang berada di Desa Bunar yang dipercaya oleh masyarakat akan keterkaitan antara makam dan penamaan cerita tentang cikal bakal nama Balaraja. Desa Bunar yang sebagian besar masyarakatnya percaya bahwa di desanya ada makam dari Keluarga Kerajaan. Masyarakat tidak mengetahui kelanjutan dari keturunan cerita tersebut. Siapa saja yang jadi keturunannya atau malah cerita tersebut selesai saat anak laki-laki dari Selir Sang Raja meninggal pada masa kanak-kanak.

Istilah Balaraja diambil dari dua kata yakni bala (pasukan) dan Raja (orang yang berkuasa pada satu wilayah). Kisah ini terkait dengan pembentukan Nama Tigaraksa. Suatu kitika saat tiga penguasa dari tanah Sunda yakni Banten, Sumedang dan Cirebon mengadakan pertemuan untuk pembagian wilayah teritorial kerajaan bertempat di desa Kaduagung (salah satu desa dikecamatan Tigaraksa sekarang). Mengingat khususnya pertemuan tersebut, masing-masing Raja akhirnya hanya boleh membawa beberapa pengawalnya yang ikut serta dalam pertemuan tersbut.Sebagai sebuah pertemuan yang penting, para pasukan yang ikut mengawal Sang Raja akhirnya dikumpulkan dalam satu wilayah (camp). Karena banyaknya bala tentara dari berbagai kerajaan berkumpul menjadi satu, secara otomatis masyarakat yang berada di sekitar daerah tersebut menganggap kejadian tersebut sebagai sebuah kejadian yang aneh.

Kekhawatiran masyarakat menjadi besar setelah tahu kalau para pasukan yang berkumpul tersebut adalah pasukan dari berbagai kerajaan yang sedang mengadakan pertemuan di Kaduagung. Kekhawatiran terjadi pertempuranpun dirasakan oleh para penduduk yang rumahnya tidak jauh dari arena berkumpulnya para pasukan.Setelah pertemuan tiga penguasa itu selesai, ketakutan masyarakat akan adanya peperangan ternyata tidak terbukti. Ketiga penguasa kembali lagi ke kerajaan masing-masing dengan para pasukannya. Adanya kejadian tersebut ternyata membekas di dalam keseharian masyarakat. Sebagai sebuah penanda suatu wilayah akhirnya masyarakat menggunakan Nama Balaraja untuk menunjuk tempat yang di maksud.

Itulah sedikit dari banyaknya pendapat mengenai sejarah Balaraja. Dengan mencari tahu atau membaca sejarah tentu akan menambah wawasan atau pengetahuan kita hendaknya kita lebih mengenal sejarah kita karena manusia belajar dari sejarah. Menurut saya dengan belajar sejarah kita dapat berbenah diri dari kejadian dan peristiwa terjadi di masa lalu dan menjadikan kejadian atau peristiwa yang positif sebagai motivasi dan inspirasi untuk melakukan perubahan dimasa sekarang dan yang akan datang. Dengan mengenal sejarah tempat atau asal usul daerah kita tentu akan membuat kita lebih bangga dan mencintai daerah kita. bung Karno pernah berkata ”

BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI SEJARAHNYA SENDIRI”.

Sumber: http://nurmanprayogi.blogspot.co.id/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s