Apakah Implementasi Etika Kerja Islami Dapat Menurunkan Hasrat Seseorang Untuk Melakukan Tindakan Internal Fraud?

 

Abstrak

Penelitian dilakukan pada Koperasi KPP UMKM Syariah tahun 2015. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan jawaban empiris atas pertanyaan “apakah implementasi etika kerja Islami dapat menurunkan hasrat seseorang untuk melakukan tindakan Internal Fraud.” Variabel dalam penelitian ini adalah ini adalah etika kerja Islami dan internal fraud yang diukur dengan menggunakan skala likert 1-5. Metode penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel wilayah atau area probability sample yang terdiri dari 84 responden. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Partial Least Square (PLS). Hasil penelitian menunjukan nilai p value sebesar 0.03 jauh lebih kecil dari nilai kritis 0.05 (5%) dan nilai koefisien estimasi (β) sebesar -0.15. Dengan demikian terbukti bahwa implementasi etika kerja Islami mampu menurunkan hasrat seseorang untuk melakukan internal fraud. Dibuktikan dengan arah negatif pengaruh implementasi etika kerja Islami terhadap internal fraud.

 

Kata kunci: Etika Kerja Islami dan Internal Fraud.

 


  1. Pendahuluan

Berbagai bersoalan yang melekat pada lembaga keuangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) adalah kurangnya permodalan, kesulitan dalam pemasaran, struktur organisasi sederhana dengan pembagian kerja yang tidak baku, kualitas manajemen rendah, kualitas SDM yang rendah, tidak mempunyai laporan keuangan, aspek legalitas lemah, dan kualitas teknologi rendah (Rahmana, et.al., 2012).

Kegagalan perusahaan sejenis koperasi umumnya berasal dari lingkungan  internal. Salah satunya bisa disebabkan oleh lemahnya komitmen para pengurus untuk menjalankan koperasi. Oleh karena lemahnya komitmen dan pengawasan memungkinkan terjadinya kecurangan dan penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh karyawan pada internal koperasi.

Berbagai  kasus kecurangan yang terjadi pada koperasi salah satunya pada Cipaganti Karya Guna Persada melibatkan satu Direktur Utama dan dua petinggi perusahaan (http://bisnis.tempo.co. 2014). Bisnis investasi kerkedok koperasi dilakukan oleh Koperasi Langit Biru (KLB). Pimpinan koperasi menggelapkan dana milik 140 ribu nasabah yang jumlahnya mencapai Rp 6 triliun. Dengan iming-iming mendapatkan bunga 17-30 persen, banyak warga yang terjerat (Fokus. News.viva.co.id. 2015).

Untuk mencegah berbagai bentuk penyimpangan, koperasi wajib memiliki kebijakan terkait dengan pedoman perilaku yang mencerminkan akhlaqul karimah (budi pekerti yang mulia). Melalui implementasi pedoman perilaku ini diharapkan koperasi dapat dikelola secara professional dan bertanggungjawab.

Sebuah tantangan besar bagi perusahaan dengan konsep syariah, karena sebagus apapun sistem yang dibangun dalam perusahaan tidak akan berarti ketika etika tidak dijalankan (Nawatmi, 2010). Itu sebabnya etika kerja Islami menjadi sangat penting bagi lembaga keuangan syariah terutama pada Koperasi KPP UMKM Syariah. Dalam perasionalnya Koperasi KPP UMKM mengacu pada ketentuan Al Qur`an dan As Sunah, khususnya yang menyangkut tata cara bisnis secara Islam. Melalui implementasi nilai Islam dan etika kerja Islami akan membimbing aktivitas ekonomi sesuai dengan tuntunan syariat Islam sehingga terhindar dari tindakan kecurangan pada internal koperasi (internal fraud). Beberapa faktor yang menjadi pemicu kecurangan diantaranya: adanya kesempatan (opportunity), tekanan atau insentif (pressure or incentive) dan rasionalisasi (rationalization). Faktor-faktor tersebut saling memperkuat dan membentuk pilar kecurangan yang disebut dengan segitiga kecurangan (fraud triangle) (Sukirman & Sari, 2013). Penyebab kecurangan menurut Nawatmi (2010) karena perusahaan tidak menjalankan etika kerja dengan baik. Akibatnya terjadi ketidak adilan, munculnya moral hazard, penyuapan dan lain-lain (Nawatmi, 2010). Maharani (2013) menyatakan bahwa perusahaan yang etika bisnis Islam dengan baik dapat berpengaruh negatif signifikan terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi dalam pelaporan keuangan. Artinya budaya entitas dengan standar etika yang rendah memiliki risiko kecurangan akuntansi yang tinggi, begitupun sebaliknya entitas dengan standar etika yang tinggi dapat mencegah terjadinya kecurangan akuntansi.

Pelakunya kecurangan bisa terjadi pada internal perusahaan terutama  melibatkan karyawan dan manajemen perusahaan (internal fraud). praktik kecurang yang dilakukan karyawan dapat berupa penyalahgunaan aktiva. Sedangkan praktik kecurangan yang melibatkan pihak manajemen dapat berupa salah saji yang timbul karena kecurangan pelaporan keuangan (Putra, 2012).

Penelitian ini dilakukan pada lembaga keuangan yang menerapkan prinsip syariah yaitu pada Koperasi KPP UMKM Syariah tahun 2015. Penelitian tentang kecurangan menarik untuk diteliti karena dilakukan pada perusahaan diakar rumput. Penelitian ini bermaksud untuk memberikan jawaban atas pertanyaan “Apakah Implementasi Etika Kerja Islami Dapat Menurunkan Hasrat Seseorang Untuk Melakukan Tindakan Internal Fraud ?”

 

  1. Rumusan Masalah

Perusahaan yang menjalankan nilai etika kerja seharusnya tidak terjadi tindakan yang dapat merugikan dan menghancurkan koperasi. Namun pada kenyataan tindakan kecurangan pada lembaga keuangan semacam koperasi syariah belum terhindar dari tindakan internal fraud. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: apakah implementasi etika kerja Islami dapat menurunkan hasrat seseorang untuk melakukan tindakan internal fraud?

 

  1. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk menberikan jawaban empiris atas pertanyaan “apakah implementasi etika kerja Islami dapat menurunkan hasrat seseorang untuk melakukan tindakan Internal Fraud.”

 

  1. Kajian Literatur
  2. Agency Theory

Agency theory dilandasi dari theory of the firm yang banyak diajukan oleh berbagai penulis seperti Ronald Coase, 1937 dan Oliver Hart, 2001. Organisasi dipandang sebagai nexus dan set kontrak diantara faktor-faktor produksi (Jensen & Meckling, 1976 dalam Umar, 2012). Hubungan keagenan merupakan hubungan antara pihak principal dengan agent. Pihak agent memperoleh kewenangan dari pihak principal untuk mengelola sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang sesuai dengan interest pihak prinsipal. Pihak principal, mempercayakan pengelolaan sumber dayanya kepada pihak manajemen agar dapat meningkatkan nilai kekayaannya. Namun kenyataannya, pihak manajemen memiliki interest yang berbeda dengan amanah yang telah diberikan oleh principal. Manajemen bertindak untuk meningkatkan kemaslahatan (interest) bagi dirinya dan kroninya. Hal ini dikenal dengan banyak istilah seperti corruption atau fraud (Umar, 2012).

 

  1. Etika Kerja Islami

Etika adalah cabang ilmu filsafat yang merefleksikan nilai-nilai moral (Lubis dan Adian, 2011:5). Hal senada juga disampaikan oleh Velasquez (2011: 432) yang menyatakan etika adalah studi tentang moralalitas. Dengan kata lain etika adalah cabang dari filsafat yang mencoba untuk menentukan tindakan secara moral baik dan benar. Etika berkaitan dengan moralitas, tetapi tidak sama. Moralitas adalah subjek masalah dari studi etika.

Etika bersala dari bahasa Yunani yaitu ethos yang berarti adat istiadat. Etos kerja diartikan sebagai doktrin tentang kerja. Sementara etika kerja Islami (Islamic work ethic) merupakan orentasi yang membentuk dan mempengaruhi keterlibatan dan partisipasi muslim di tempat kerja. Etika kerja islami memandang pekerjaan sebagai cara untuk kepentingan lebih dari kepentingan pribadi secara ekonomi, sosial, dan psikologi, melanjutkan prestasi sosial, meningkatkan kemakmuran sosial, dan menguatkan keimanan (Ali dan Al-Owaihan, 2008:10).

Etika kerja Islam menuntun aktivitas karyawan dengan mengedepankan moralitas sehingga mampu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Indikator yang dapat pembentuk konstruk etika kerja Islam yaitu menjalankan aktivitas baik dan menjalankan aktivitas bermanfaat (QS. An-Nahl: 97), menuju kesempurnaan (Al-Itqan), bekerja lebih baik lagi (Al-Ihsan), bekerja sama, berkerja secara optimal (Al-Mujahadah) (Q.S. Al-Ankabut: 69), bersaing dan tolong menolong (Tanafus dan ta’awun), menghargai waktu, jujur (At-Taubah: 119), amanah (Al-Anfal: 27), cerdas (Ar-Ra`d: 3) dan tabligh (Al-Maidah: 67) (Ali dan Al-Owaihan, 2008:10).

 

  1. Teori Kecurangan

Mengambil sesuatu milik orang lain secara tidak sah (illegal) dapat dilakukan dengan mengambil secara paksa milik orang lain dengan menggunakan senjata (pisau, pistol, dll) sehingga barang tersebut diberikan atau dengan cara licik (menipu). Cara pertama dilakukan biasa dikenal dengan istilah perampokan (robbery) sedangkan yang kedua merupakan kecurangan (fraud) (Suprajadi, L. 2009).

Jenis kecurangan berdasarkan pelakunya menurut Simanjuntak (2008) dalam Putra (2012) dapat berasal dari internal maupun eksternal perusahaan. Kecurangan yang dilakukan pada internal dilakukan oleh karyawan misalnya salah saji yang berupa penyalahgunaan aktiva. Kecurangan yang dilakukan oleh karyawan dapat berupa: penggelapan terhadap penerimaan kas, pencurian aktiva perusahaaan, mark-up harga, transaksi tidak resmi. Kecurangan yang dilakukan oleh manajemen perusahaan dapat berupa manipulasi, pemalsuan, atau pengubahan terhadap catatan akuntansi atau dokumen pendukung yang merupakan sumber penyajian laporan keuangan, kesengajaan dalam salah menyajikan atau sengaja menghilangkan (intentional omissions) suatu transaksi, kejadian, atau informasi penting dari laporan keuangan. Sedangkan kecurangan yang melibatkan pihak ekternal seperti: tidak independennya auditor maupun akuntan, kecurangan dari pelanggan, distributor maupun supplier perusahaan (Putra, 2012).

Kecurangan umumnya terjadi karena adanya tekanan untuk melakukan penyelewengan atau dorongan untuk memanfaatkan kesempatan yang ada dan adanya pembenaran (diterima secara umum) terhadap tindakan tersebut (Sofia, 2014). Kondisi yang demikian dikenal dengan fraud triangle. Sukirman & Sari (2013) menggambarkan fraud triangle sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

Sumber: Sukirman dan Sari,  M., P. 2013.

Gambar 1. Fraud Triangel

 

Elemen pertama dari segitiga kecurangan adalah tekanan. Tekanan dapat diakibatkan oleh berbagai hal termasuk tekanan yang bersifat finansial dan non finansial. Faktor finansial muncul karena keinginan untuk memiliki gaya hidup yang berkecukupan secara materi. Sedangkan faktor non finansial bisa mendorong seseorang melakukan fraud, yaitu tindakan untuk menutupi kinerja yang buruk (Sukirman dan Sari, 2013). Faktor kecurangan yang kedua adalah kesempatan. Terbukanya kesempatan ini dikarenakan si pelaku percaya bahwa aktivitas mereka tidak akan terdeteksi. Sistem pengendalian internal yang lemah, manajemen pengawasan yang kurang memadai serta prosedur yang tidak jelas ikut andil dalam membuka peluang terjadinya kecurangan. Elemen ketiga adalah rasionalisasi. Hal ini merupakan pembenaran terhadap tindakan yang dilakukan. Para pelaku fraud biasanya mencari berbagai alasan secara rasional untuk menjustifikasi tindakan mereka (Sukirman dan Sari, 2013).

 

  1. Kajian Penelitian Terdahulu

Penelitian Maharani (2013) menyatakan bahwa etika bisnis berpengaruh negatif signifikan terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi dalam pelaporan keuangan. Semakin meningkat etika bisnis Islam maka akan mengurangi kecenderungan kecurangan akuntansi dalam pelaporan keuangan. Sebaliknya semakin menurun etika bisnis maka akan meningkatkan kecenderungan kecurangan akuntansi dalam pelaporan keuangan.

Penelitian dengan menggunakan model deteksi kecurangan berbasis fraud triangle dilakukan oleh Sukirman dan Sari (2013). Penelitian ini memberikan hasil bahwa semakin tinggi nilai audit report (rationalization), maka probabilitas perusahaan melakukan fraud juga semakin tinggi. Penelitian Putra (2012), menjelaskan bahwa praktik kecurangan akuntansi dalam perusahaan salah satunya dapat dicegah melalui komitmen tinggi untuk tidak melakukan berbagai bentuk kecurangan (Putra, 2012).

 

 

  1. Hipotesis Penelitian

Etika Bisnis Islam merupakan sebuah solusi untuk keluar dari budaya korup dan sikap tidak professional. Karenanya implementasi etika bisnis Islam dapat mengurangi kecurangan dalam pelaporan keuangan. Etika bisnis Islam diharapkan dapat menurunkan niat kecurangan dalam pelaporan keuangan. Etika bisnis Islam memiliki pengaruh yang signifikan negatif terhadap penipuan dalam pelaporan keuangan (Maharani, 2013). Dengan demikian argumentasi ini bisa digunakan dalam merumuskan hipotesis sebagai berikut:

H1 =  Implementasi Etika Kerja Islami Dapat Menurunkan Hasrat Seseorang Untuk Melakukan Tindakan Internal Fraud

 

  1. Metodologi Penelitian
  2. Desain Penelitian

Dalam mendesain sebuah penelitian, maka terlebih dahulu menentukan metode penelitian yang akan digunakan. Metode penelitian merupakan suatu cara yang digunakan oleh peneliti dalam mencapai tujuan penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kasusalitas dan deskriptif. Penelitian kausalitas yaitu suatu penelitian yang berusaha mencari pengaruh variabel tertentu terhadap variabel yang lain. Sedangkan penelitian deskriptif bertujuan menggambarkan suatu kondisi atau fenomena tertentu. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini ada adalah data quantitatif. Data kualitatif yang digunakan adalah data ordinal. Pada data ordinal didasarkan pada tingkatan atau urutan lebih tinggi atau lebih rendah (Santoso, 2014).

 

  1. Populasi dan Sampel

Populasi penelitian ini adalah perusahaan yang bergerak pada sektor UMKM yang berbadan hukum koperasi di Kabupaten Tangerang. Metode penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel wilayah atau area probability sample. Salmpel wilayah adalah teknik sampling yang dilakukan dengan mengambil wakil dari setiap wilayah yang terdapat dalam populasi (Arikunto, 2010). Berikut ini disajikan sampel penelitian:


Tabel 1. Jumlah Sampel

Wilayah Jumlah KCP Jabatan L P Jumlah
Tangerang 19 Manajer KCP 15 2 17
  Staf  Lapang 11 6 17
  Anggota 3 14 17
Serang 7 Manajer KCP 7   7
    Staf  Lapang 6 1 7
    Anggota 1 6 7
Lebak 2 Manajer KCP 2   2
    Staf  Lapang 1 1 2
    Anggota 1 1 2
Pandeglang 2 Manajer KCP 2   2
    Staf  Lapang 2   2
    Anggota   2 2
Total Sampel     84

 


  1. Definisi dan Pengukuran Variabel
  2. Etika Kerja Islam

Etika kerja Islam adalah pedoman moral yang bersumber dari Al-Qur`an dan As-Sunah yang membimbing aktivitas karyawan dalam bekerja, sehingga dapat membedakan mana yang baik dan buruk, bermanfaat dan tidak bermanfaat yang ditunjukan dengan kinerja yang baik Amaliah, et.al., (2013). Variabel ini diukur dengan menggunakan instrumen Amaliah, et.al., (2013) yang terdiri dari 13 indikator pada skala likert 1-5 dengan menggunakan data ordinal terdiri dari lima pilihan, yakni: 1 = Sangat tidak setuju, 2 = Tidak setuju, 3 = Cukup setuju, 4 = Setuju, dan 5 = Sangat setuju.


Tabel 2. Kisi-kisi etika kerja islami

No Indikator Kode No Butir
1 Aktivitas baik EKI.1 1
2 Aktivitas bermanfaat EKI.2 2
3 Menuju kesempurnaan EKI.3 3
4 Bekerja lebih baik lagi EKI.4 4
5 Bekerja sama EKI.5 5
6 Bekerja secara optimal EKI.6 6
7 Bersaing EKI.7 7
8 Tolong menolong EKI.8 8
9 Menghargai waktu EKI.9 9
10 Jujur EKI.10 10
11 Amanah EKI.11 11
12 Cerdas EKI.12 12
13 Tabligh EKI.13 13

 


  1. Internal Fraud

Internal fraud adalah kecurangan dalam internal perusahaan yang dilakukan oleh karyawan dan pihak manajemen Purta (2012). Instrumen ini dikembangkan dari penelitian Purta (2012) dengan melihat kecurangan akuntansi yang dilakukan internal perusahaan baik oleh karyawan dan manajemen.  Pengukuran instrumen menggunakan skala Likert 1-5 dengan menggunakan data ordinal yang terdiri dari lima pilihan, yakni: 1 = Sangat tidak wajar, 2 = Tidak wajar, 3 = Cuku wajar, 4 = Wajar, dan 5 = Sangat wajar.


Tabel 3. Kisi-kisi Internal Fraud

No Indikator Kode No Butir
1 Karyawan IF.1  
  Salah saji kas IF.1.1 35
  Mark-up harga IF.1.3 36
  Transaksi tidak resmi IF.1.4 37
2 Manajemen IF.2  
  Manipulasi data IF.2.1 38
  Pengubahan catatan akuntansi IF.2.2 39
  Kesengajaan menghilangkan (intentional omissions) suatu transaksi IF.2.3 40


 


  1. Teknik Pengumpulan Data

Data penelitian dikumpulkan dengan metode survey pada tahun 2015 dengan menggunakan kuesioner, metode ini merupakan metode pengumpulan data primer bersumber dari jawaban responden atas beberapa pertanyaan tentang etika kerja Islami, determinan kecurangan dan internal fraud.

 

  1. Metode Analisis data

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Partial Least Square (PLS) dengan menggunakan software SmartPLS. Alasan digunakan PLS dalam penelitian ini adalah karena PLS dapat menganalisis dan menguji hubungan di antara variabel. Wold (1985) dalam Ghozali (2014) menyebutkan bahwa PLS merupakan metode analisis yang powerfull oleh karena tidak didasarkan banyak asumsi. Data tidak harus berdistribusi normal multivariate (indikator dengan skala kategori, ordinal, interval sampai rasio dapat digunakan pada model yang sama), dan sampel tidak harus besar (Wold, 1985 dalam Ghozali, 2014). Pengujian outer model dengan indikator refleksif dievaluasi menggunakan tiga pengujian, yaitu uji convergent validity, discriminant validity, dan composite reliability.

 

  1. Hasil Penelitian dan Pembahasan
  2. Hasil Outer Model/Measurement Model
    1. Convergent validity

Ukuran reflektif individual dikatakan tinggi jika berkorelasi lebih dari 0.70 dengan konstruk yang ingin diukur (Chin, 1998 dalam Ghozali, 2014: 39). Namun untuk exploratory research lebih dari 0.6 dianggap cukup (Chin (1998), Chin (2010b), Hair et. al. (2010), Hair et. al. (2012), dalam Latan dan Ghozali, 2012: 81). Nilai loading masing-masing indikator variabel laten EKI dan IF telah memenuhi syarat validitas konvergen karena memiliki nilai lebih dari 0.6.


Tabel 4. Nilai loading factor dari setiap Indikator

No Variabel Laten Indikator
Simbol Nilai loading factor
1 Etika Kerja Islami (EKI) EKI 1 0.682
EKI 2 0.738
EKI 3 0.744
EKI 4 0.797
EKI 5 0.614
EKI 6 0.774
EKI 8 0.632
EKI 9 0.805
EKI 10 0.751
EKI 11 0.787
EKI 12 0.76
EKI 13 0.682
2 Internal Fraud IF.1 0.874
IF.2 0.874

                        Sumber: Data penelitian yang diolah

 


  1. Discriminan validity

Discriminan validity dapat dilihat dari cross loading. Nilai korelasi indikator konstruk harus lebih besar dibandingkan nilai korelasi antara indikator dengan konstruk lainya. Dari hasil pengujian di atas menunjukan bahwa nilai average variance extracted (AVE) telah memenuhi syarat di atas 0.50.

Tabel 5.

Average Variances Extracted (AVE)

Average variances extracted
EKI IF
0.52 0.764

Sumber: Data penelitian yang diolah

 

 

  1. Composite reliability

Sebagaimana terlihat dalam tabel di bawah ini, dapat dijelaskan bahwa masing-masing konstruk dengan indikator reflektif dan formatif sangat reliabel karena memiliki composite reliability dan cronbach alpha yang tinggi yaitu di atas 0.7.

Hasil composite reliability melebihi 0.7 yaitu: 0.933 untuk konstruk etika kerja Islami (EKI) dan 0.866 untuk konstruk internal fraud.  Nilai cronbach alpha masing-masing melebihi 0.7 yaitu: 0.92 untuk konstruk etika kerja Islami (EKI) dan 0.701 untuk konstruk internal fraud. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa data yang diperoleh sangat reliabel.


 

Tabel 6. Composite Reliability dan Cronbach Alpha

No Contruct Composite Reliability Cronbach Alpha
1 Etika Kerja Islami (EKI) 0.933 0.92
2 Internal Fraud (IF) 0.866 0.701

Sumber: Data penelitian yang diolah

 


  1. Hasil inner model atau model struktural

Tabel berikut ini merupakan hasil estimasi R-square dengan menggunakan Smart PLS.


Tabel 7. Latent variable coefficients

  EKI IF
R-squared coefficients   0.447
Adjusted R-squared coefficients   0.411
Composite reliability coefficients 0.933 0.866
Cronbach’s alpha coefficients 0.92 0.701
Average variances extracted 0.52 0.764
Full collinearity VIFs 1.708 2.001
Q-squared coefficients   0.468

Sumber: Data penelitian yang diolah

 

 

Hasil outpu di atas dapat dilihat nilai R-Square untuk variabel IF sebesar 0.447. Koefisien determinasi menggunakan R-Square yang menunjukan berpa persentase variasi konstruk endogen/kriteion dapat menjelaskan dapat dijelaskan oleh konstruk yang dihipotesiskan memengaruhinya (eksogen/prediktor). Semakin tinggi R-Square menunjukan model yang baik. R-Square hanya ada untuk kosntruk eksogen (Sholihin dan Ratmono, 2013:72). Nilai R-Square konstruk IF sebesar 0.447 menunjukan bahwa variasi IF dapat dijelaskan sebesar 44.7% oleh variasi EKI.

Selain melihat nilai R-Square, model PLS juga dievaluasi dengan melihat Q-Square (biasanya disebut Stoner-Geisser Coefficient). Q-Square merupakan ukuran nonparametik yang diperoleh melalui algoritma blindfolding yang digunakan untuk menilai validitas prediktif atau relevansi dari sekumpulan variabel laten prediktor pada variabel kriterion. Q-Square dapat bernilai negatif sedangkan nilai R-Square selalu positif. Model dengan validitas prediktif harus mempunya nilai Q-Square lebih besar dari nol (Sholihin dan Ratmono 2013: 72-73). Hasil estimasi model penelitian menunjukan validitas prediktif yang baik yaitu 0.468 bernilai di atas nol. Selanjutnya untuk melihat effect size dapat melihat tabel dibawah ini:

Tabel 8. Effect Sizes for Path Coefficients

EKI
IF 0.056

Sumber: Data penelitian yang diolah

Hasil estimasi menunjukan effect size pengaruh EKI terhadap IF sebesar 0.056. Effect size ini tergolong lemah. Dengan bantuan Program WarpPLS 4.0 dapat diperoleh indek fit sebagai berikut:


 

Tabel 9. Model fit and quality indices

Model fit and quality indices

———————————————————-

Average path coefficient (APC)= (APC)=0.183, P=0.007

Average R-squared (ARS)=0.157, P=0.014

Average block VIF (AVIF)=1.601, acceptable if <= 5, ideally <= 3.3

Sumber: Data penelitian yang diolah

 

 

Output indeks fit pada gambar di atas menunjukan bahwa ketiga indikator  fit telah memenuhi kriteria. Hasil output menunjukan kriteria goodness of fit model telah terpenuhi yaitu dengan nilai  APC = 0.183, ARS = 0.157 dengan nilai signifikansi p = 0.007 dan 0.014 lebih kecil dari 0.05. Nilai AVIF sebesar 1.601 kurang dari 5 telah memenuhi kriteria. Dengan demikian model yang diajukan didukung oleh data.

 

  1. Hasil Pengujian Hipotesis
  2. Terdapat pengaruh implementasi etika kerja Islami terhadap internal fraud.

Berdasarkan hasil perhitungan uji SEM PLS menunjukan jalur EKI terhadap IF dengan nilai p value sebesar 0.03 dan nilai koefisien estimasi (β) sebesar -0.15. Karena nilai p value jauh lebih kecil dari nilai kritis 0.05 (5%), terbukti secara statistik etika kerja Islami berpengaruh negatif terhadap internal fraud. Artinya hipotesis yang menyatakan terdapat pengaruh etika kerja Islami terhadap internal fraud dapat diterima. Pada tingkat keyakinan 5% terbukti secara signifikan bahwa etika kerja Islami berpengaruh terhadap internal fraud. Dengan demikian H1 diterima. Penelitian ini sejalan dengan Maharani (2013) menyatakan bahwa etika bisnis berpengaruh negatif signifikan terhadap kecenderungan kecurangan akuntansi dalam pelaporan keuangan.

Etika kerja Islami yang telah diimplementasikan pada Koperasi KPP UMKM Syariah mampu mengurangi terjadinya internal fraud. Namun selama ini, etika kerja Islami yang dijalankan oleh karyawan Koperasi KPP UMKM Syariah merupakan etika kerja Islami secara individu dan belum menjalankan etika Islami secara kelembagaan karena Koperasi KPP UMKM Syariah belum memiliki standar etika secara khusus.

 

  1. Kesimpulan

Terdapat pengaruh implementasi etika kerja Islami terhadap internal fraud. Dibuktikan dengan nilai p value sebesar 0.03 jauh lebih kecil dari nilai kritis 0.05 (5%) dan nilai koefisien estimasi (β) sebesar -0.15.

Penelitian ini membuktikan bahwa implementasi etika kerja Islami mampu menurunkan hasrat seseorang untuk melakukan internal fraud. Dibuktikan dengan arah negatif pengaruh implementasi etika kerja Islami terhadap internal fraud. Artinya implementasi etika kerja Islami yang tinggi dapat menurunkan tindakan internal fraud. Oleh karena internalisasi etika kerja Islami yang melembaga dalam sebuah organisasi akan menciptakan budaya organisasi yang baik. Setiap tindakan yang mengedepankan nilai-nilai etika kerja Islami maka akan menghasilkan keputusan yang bersifat etis. Karyawan yang memiliki etika kerja Islami akan mampu mebedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Sehingga tindakan kecurangan dapat terhindar dalam sebuah organisasi.

Sampel penelitian ini cukup kecil yaitu sebanyak 84 orang responden. Penelitian ini dilakukan hanya pada karyawan Koperasi KPP MKM Syariah. Satu Koperasi yariah terlalu sedikit sehingga akan menjadi kendala dalam melakukan generalisasi.

 

Daftar Pustaka                                                                                   

Ali, A.J dan Al-Owaihan, A. 2008. Islamic Work Ethic: a critical review. Cross Cultural Management: An International Journal Vol. 15 No. 1, 2008 pp. 5-19.

Amaliah, I., Julia, A., Riani, W. 2013. Pengaruh Nilai Islam Terhadap Kinerja Kerja.  MIMBAR, Vol. 29, No. 2 (Desember, 2013), hal 165-174.

Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta  

Fokus.news.viva.co.id. Bos Koperasi Langit Biru Tewas, Bagaimana Nasib Nasabah?. Diakses pada hari Minggu, 4 Oktober 2015 jam 12.16.

http://bisnis.tempo.co. 2014. Bos Ditangkap Saham Cipaganti Terbenam. Diakses  pada minggu, 4Oktober 2015 jam 11.04.

 

Maharani Shinta. 2013. Pengaruh Etika Bisnis Islam Terhadap Kecenderungan Kecurangan Akuntansi Dalam Pelaporan Keuangan Pada Entitas Publik Di Indonesia, Volume 7 Nomor 2, Sya’ban 1434.

Nawatmi. 2010. Etika Bisnis Dalam Perspektif Islam. Fokus Ekonomi (FE), Hal 50–58 Vol. 9, No.1 ISSN: 1412-3851. Unisversitas Stikubank, Semarang.

Putra, Y.,H.,S., 2012. Praktik Kecurangan Akuntansi dalam Perusahaan. Fakultas Ekonomi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Jurnal Akuntansi El Muhasaba. Vol. 1 No. 1

Rahmana, A,  Iriani , Y dan Oktarina,  R. 2012. Strategi Pengembangan Usaha Kecil Menengah Sektor Industri Pengolahan.  Jurnal Teknik Industri, Vol. 13, No. 1, hal 14–21 (Februari 2012).

Santoso, S. 2014. dalam Menguasai SPSS 22 From Basic To Expert Skill. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Sofia, I.,P. 2014. Persepsi Auditor Internal Dan Eksternal Mengenai Efektivitas Metode Pendeteksian Dan Pencegahan Tindakan Kecurangan Keuangan. 3rd Economics & Business Research Festival 13 November 2014. ISBN: 978-979-3775-55-5.

Sukirman dan Sari, M., P. 2013. Model Deteksi Kecurangan Berbasis Fraud Triangle (Studi Kasus Pada Perusahaan Publik Di Indonesia). Jurnal Akuntansi & Auditing Volume 9, No. 2, (Mei 2013), hal 199 – 225.

Suprajadi, L. 2009. Teori Kecurangan, Fraad Awareness, dan Metodologi Untuk Mendeteksi Kecurangan Pelaporan Keuangan. Volume 13, Nomor 2, Agustus 2009. Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan.

Umar, Haryono. 2012. Pengawasan Untuk Pemberantasan Korupsi. Jurnal Akuntansi & Auditing Volume 8/No. 2/Mei 2012: 95-189.

Ghozali. 2014. Structural Equation Modeling Metode Alternatif Dengan Partial Least Squares (PLS), Badan Penerbit Universitas Diponegoro Semarang

Penulis:

Hamdani

Urang Balaraja Aseli

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Tangerang

hamdani_82m@yahoo.com

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s