Mengapa Sejarah Balaraja Sulit Terlacak?

Sulit. Hanya itu kata yang tepat. Demi menggambarkan masalah besar dalam mengungkap Sejarah Balaraja (baik masa kuno, klasik, moderen, ataupun terkini).

Dua pokok soal jadi sebab. Pertama, Sejarah Balaraja tak memiliki sumber-sumber primer (dijelaskan lebih lanjut di bawah ini). Dan berikutnya, yang kedua, sumber sekunder sekalipun, bersifat sangat spekulatif, tidak serius, dan bahkan cenderung anekdot semata (olok-olok, dan tak berdasar).

Namun bukan berarti kita kehilangan pegangan sama sekali. Dalam khasanah sejarah mutakhir, ada sebuah mazhab Ilmu sejarah, yang disebut Mazhab Annales dari Perancis. Kiblat sejarah terbaru itu mengatakan bahwa sejarah tak cuma catatan (dokumen) peristiwa masa lalu, melainkan juga proses sosial dan realitas masyarakat yang terjadi di era silam.

Mau tak mau, opsi tunggal dalam membuka sejarah Balaraja adalah melalui realitas sosial yang berkembang. Melalui berbagai kejadian, cerita, perkembangan masyarakat, dan kumpulan potongan-potongan sosial budaya di Balaraj (yang bersumber dari masa lalu). Inilah salah satu alasan saya dalam mengembangkan blog ini, agar pelbaga cerita, kejadian, peristiwa, momen, dinamika sosial, dan a-b-c Balaraja bisa tertuang. Di kemudian hari, hal-hal ini yang akan menjadi Sejarah Balaraja…

Apa Itu Sumber Primer

Tak lain adalah sumber pertama, dalam beragam bentuk. Biasa disebut dengan artefak (alat-alat budaya), maintifak (peninggalan dalam bentuk gagasan), dan sosiofak (alat-alat sosial kemasyarakatan).

Tak ada satupun dari tiga pilah tetinggalan kuno tentang Balaraja yang bisa dipelajari. Olehnya, sumber primer adalah kosong…

Demikian pun dengan teknologi eskapasi (pengangkatan) tinggalan sejarah kuno/klasik era silam di Balaraja, nyaris tak bisa ditemukan.

Mengingat miskinnya epigrapi (tulisan kuno, di batu, yupa, atau media tulis zaman dulu), maka sulit untuk memastikan periodisasi Balaraja. Kecuali jika mengacu pada kerajaan atau vassal state (kadipaten, atau wilayah di dalam kerajaan sekitar), maka ada kemungkinan Balaraja adalah bagian dari Kesultanan Banten.

Begitu juga, hingga kini tak ada korpus (atau kropak, atau kumpulan naskah kuno, baik dalam daun lontar atau daun nipah, sebagaimana lazimnya cerita-cerita klasik dituangkan) yang menyebut-nyebut Balaraja. Tak ada Babad, Suluk, Kidung, Kakawin, Macapat, Tambo, dan atau hikayat tertulis, yang mencatat nama Balaraja.

Lebih sulit lagi, cerita-cerita rakyat (dalam Anthropologi disebut folkrole), tentang Balaraja sangat simpang siur, tak pernah jelas dan mengalami spot cross (simpang siur).

Kata singkatnya, sejarah Balaraja adalah sejarah yang sulit diteliti melalui ilmu-ilmu sejarah moderen (seperti epigrapi, filologi, ataupun arkeologi). Sebagaimana kita ketahui, epigrapi adalah ilmu yang “membaca dan menafsirkan” informasi tulisan singkat yang tertuang dalam prasasti (dalam bentuk yupa, candi, patung, punden, tembikar, porselen, atau tugu). Sementara  filologi adalah ilmu yang mempelajari karya susastera klasik, seperti pada daun lontar atau nipah). Sedangkan arkeologi adalah ilmu yang meneliti benda-benda kuno warisan era silam (bisa dalam bentuk pusaka, senjata, alat pertanian, alat keterampilan, kapak, golok, tembikar, keramik dan lain-lain).

Spekulasi?

Di dalam blog ini, semua penuangan sejarah Balaraja adalah spekulatif (karena tak bersandar pada bukti ilmu sejarah yang meyakinkan, seperti diterangkan di atas).

Tetapi cukup berharga. Menyelamatkan sisa-sisa ingatan dan memori publik tentang Balaraja era silam. Sekaligus menjadi khasanah Riwayat Balaraja dari masa ke masa. Anda bisa memilih sendiri artikel yang Anda minati. Termasuk satu potongan sumber berikut ini, yang saya kutip dari salah satu blog, milik masyarakat Balaraja:

Balaraja dibangun pada tahun 12 saka oleh Raden Said Sanjaya atas perintah dari Raden Cakrabuana.
Balaraja merupakan bagian dari kerajaan Banten yang dipimpin oleh Raden Patah / Ki Rapatala.
Balaraja merupakan sebuah taman yang berfungsi sebagai tempat persinggahan para utusan dari Cirebon dan Galuh Pakuan. baik itu utusan perdagangan, politik dan lain sebagainya.
Utusan tersebut adalah 1. Ki Walangsungsang dari Cirebon 2. Ki Wardaya dari Galuh pakuan 3. Raden Cakrabuana dari Banten.
selain tempat bermain, Balaraja juga tempat memandikan jenasah para keluarga kerajaan dan untuk memandikan pusaka kerajaan.

Sumber: tangbar.wordpress.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s